Artikel Pertanian Sehat Dengan Bubuk Biji Salak

SEHAT DENGAN BUBUK BIJI SALAK

Salak  (Salacca  edulis Reinw)  merupakan  salah  satu  tanaman  buah  yang banyak dikenal dan disukai masyarakat. Komoditas hortikultura yang sudah menembus pasar ekspor hampir ke 29 negara di dunia ini selain dikonsumsi dalam bentuk segar, juga banyak diolah menjadi beraneka macam produk siap konsumsi seperti keripik, dodol, selai, manisan dan kerupuk (Kementerian Pertanian 2019). Kegiatan pengolahan ini sangat bermanfaat bagi petani untuk meningkatkan nilai tambah produk khususnya ketika terjadi panen raya terutama di wilayah sentra produksi, seperti Padang Sidimpuan (Sumatera Utara), Serang, Sumedang, Tasikmalaya, Batujajar (Jawa Barat), Magelang, Ambarawa, Wonosobo, Banyumas, Purworejo, Purbalingga,   Banjarnegara   (Jawa   Tengah),   Sleman (Yogyakarta),   Bangkalan, Pasuruan (Jawa Timur), Karangasem  (Bali) dan Enrekang (Sulawesi  Selatan) (Nazaruddin and Kristiawati 1992).
Olahan salak umumnya dibuat dari daging buahnya. Hampir 56-65% bagian buah salak dapat dimakan, sedangkan sisanya sebesar 35-44% adalah limbah yang dibuang begitu saja (Supriyadi, et al. 2002). Limbah salak yang terdiri dari biji dan kulit biji salak masih jarang dimanfaatkan untuk olahan karena sangat keras dan kasar sehingga sulit diolah, selain itu tidak banyak yang tahu bahwa biji salak juga memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Hasil penelitian (Fathoni 2014) menyatakan bahwa senyawa kimia yang terdapat pada biji salak adalah; kadar protein 5,75%, lemak 0,42%, abu 4,16%, dan karbohidrat 89,97%, senyawa fenol (0,96% db) dan mempunyai aktivitas antioksidan (12,06% DDPH).
Kandungan didalam biji salak ternyata bisa menyembuhkan penyakit asam urat, mencegah kanker, penyakit jantung, dan menjaga kesehatan mata. Polifenol yang terkandung dalam biji salak berperan sebagai anti oksidan yang baik untuk mengurangi risiko penyakit  jantung, asam urat, pembuluh darah dan kanker, bahkan dapat mengobati penyakit Alzheimer. Lebih kanjut, kadar protein sebesar 4,22% dan kadar karbohidrat sebesar 38,9% dalam biji salak juga dapat menyerap kromium 4. Kromium trivalen diperlukan dalam jumlah kecil dalam metabolisme gula pada tubuh kita. Kekurangan kromium trivalen dapat menyebabkan penyakit chromium decienfy (penyakit kekurangan kromium), begitu pula apabila kelebihan kromium akan mengakibatkan darah tinggi dan asam urat.
Salah satu olahan yang sudah dikembangkan dari biji salak adalah olahan bubuk biji salak yang sudah dikembangkan oleh Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Intan Binaan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan yang berada di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Menurut  Endang sebagai Ketua P4S Intan, pengolahan bubuk biji salak cukup mudah, yaitu:
1.     Biji salak dijemur atau disimpan ditempat yang kering sehingga kandungan yang terdapat dalam biji salak dapat berkurang;
2.     Setelah biji salak kering, kemudian disangrai dalam kuali besar hingga  berubah warna menjadi hitam seperti kopi;
3.     Setelah biji salak hitam seperti warna kopi, tumbuk biji salak tersebut menggunakan alat tumbuk batu atau alat tumbuk modern lainnya seperti blender untuk memperlembut biji kopi;
4.     Gunakan ayakan untuk memisahkan biji kopi yang kasar dengan biji kopi yang sudah halus;
5.     Biji kopi yang sudah halus dapat langsung disajikan dengan cara diseduh dengan air panas atau dikemas dengan kemasan alumunium foil yang tahan hingga kurang lebih 1 tahun.
Pembuatan bubuk biji kopi sangat sederhana dan siapapun bisa mengolahnya untuk pencegahan berbagai penyakit. Harga pasar yang dibandrol untuk 200 gram bubuk biji salak sebesar Rp. 22.500,-/pack. Limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomis tinggi. Semoga melalui inovasi ini petani dapat memanfaatkan buah salak sampai dengan limbahnya, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. 
Sumber pustaka:

 

Fathoni, Fikri. 2014. Studi Potensi Biji Salak (Salacca edulis Reinw) Sebagai Sumber Alternatif Monosakarida dengan Cara Hidrolisis Menggunakan Asam Sulfat. Skripsi, Yogyakarta: Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada .
Kementerian Pertanian. 2019. "Akhirnya Salak Indonesia Menembus Pasar New Zealand." Berita, 03 22: 1. https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=1968.
Nazaruddin, and Regina Kristiawati. 1992. Varietas Salak: Budidaya, Prospek Bisnis, Pemasaran. Jakarta: Penebar Swadaya.
Supriyadi, Suhardi, Masayuki Suzuki, Koichi Yoshida, Tokie Muto, Akira Fujita, and Naoharu Watanabe. 2002. "Changes in the Volatile Compounds and in the Chemical and Physical Properties of Snake Fruit (Salacca edulis Reinw) CV. Pondoh During Maturation." Journal of Agricultural and Food Chemistry (American Chemical Society) 7627 - 7633.


Comments